Refleksi Parenting Anak Laki-Laki Lewat Memoar Broken Strings

Refleksi Parenting Anak Laki-Laki Lewat Memoar Broken Strings
22 Januari 2026 13:04 WIB

Cara anak laki-laki tumbuh dan memahami emosi sering kali tidak lepas dari lingkungan keluarga. Hal ini juga tercermin dalam memoar Broken Strings karya Aurélie Moeremans, yang menyoroti bagaimana pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang membangun relasi di kemudian hari. Pola asuh menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara anak mengenali diri dan orang lain.

1. Soal keseimbangan dalam pola asuh
Pola asuh yang terlalu keras maupun terlalu longgar sama-sama bisa meninggalkan dampak. Dalam banyak kasus, anak membutuhkan kehangatan sekaligus kejelasan batas, agar ia terbiasa memahami situasi dan konsekuensi secara bertahap.

2. Peran figur ayah atau figur laki-laki
Kehadiran figur laki-laki yang konsisten kerap memberi pengaruh dalam proses tumbuh kembang anak. Bukan soal siapa sosoknya, melainkan bagaimana kehadiran tersebut memberi contoh tentang tanggung jawab, komunikasi, dan sikap dalam keseharian.

3. Mengenal dan mengelola emosi
Anak laki-laki juga memiliki ruang untuk merasa sedih, marah, atau kecewa. Ketika perasaan ini diakui dan dibicarakan, anak perlahan belajar mengenali emosinya sendiri dan mencari cara yang lebih sehat untuk mengekspresikannya.

4. Batasan sebagai bagian dari proses belajar
Batasan sering kali hadir sebagai penanda ruang aman. Melalui batas yang jelas, anak belajar memahami dirinya sekaligus orang lain, termasuk dalam menghadapi penolakan atau perbedaan pendapat.

Dengan ruang aman untuk berekspresi, kehadiran figur yang suportif, dan batasan yang wajar, anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih seimbang secara emosional.







Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz