Melanie Subono dan Seni Merawat Empati

Melanie Subono dan Seni Merawat Empati
23 Januari 2026 15:09 WIB

Di tengah industri hiburan yang kerap merayakan gemerlap, Melanie Subono memilih jalan yang tidak populer: bersuara, berpihak, dan terus bergerak. Mantan model yang kemudian dikenal sebagai penyanyi rock perempuan solo ini menjadikan musik dan platformnya sebagai medium perlawanan sekaligus pengharapan.

Berbincang di sela agenda Sisterhoodgigs, sebuah komunitas seniman perempuan Indonesia, Melanie mengenang perjalanan hidupnya. Mulai dari ketidaknyamanannya menjalani gaya hidup modelling ala Indonesia hingga keasikannya menjadi penyanyi rock.

“Sampai hari ini solo rock cewek hanya aku sendiri,” ujarnya tanpa nada mengeluh. Pernyataan itu lebih terdengar sebagai potret realitas industri yang masih timpang, terutama bagi perempuan.

Barangkali itu pula yang mendorong Melanie aktif di Sisterhoodgigs. Para anggotanya menyebut komunitas ini sebagai ruang aman perempuan untuk saling menopang.

Berawal dari inisiatif beberapa musisi perempuan; Melanie, Astrid, Tere, Pia (Utopia), dan lainnya, Sisterhoodgigs lahir 11 tahun lalu sebagai wadah para perempuan musisi untuk berbagi dan nge-jam bersama. Kini anggotanya meluas, tak kurang dari 100 seniman perempuan.

“Kita kumpul bulanan, kadang 10 orang, kadang 20 orang seperti sekarang ini. Ngobrol. Apa saja,” kata Melanie.

Apa saja yang dia maksud antara lain; motherhood, kemanusiaan, dunia hiburan, pendidikan, hak hewan, hingga persoalan sosial-politik. Sisterhoodgigs juga melibatkan aktivis seperti Wanda Hamidah, membuka ruang diskusi lintas latar. “Menurut kita, woman support woman itu yang paling bener,” tegasnya.

Dari ruang inilah lahir single terbarunya, “Cantik Itu Aku”. Sebuah karya kolaboratif yang menjadi perpanjangan suara kegelisahan Melanie terhadap standar kecantikan dan tekanan sosial yang menimpa perempuan hari ini.

Musik sebagai Bentuk Perlawanan Baru

Lagu Cantik Itu Aku hadir dengan warna yang tak biasa bagi Melanie. Bukan rock kencang, melainkan slow dan mellow. Kata Melanie, agar bisa menjangkau generasi muda lewat media sosial seperti TikTok. “Aku gelisah. Orang yang secara objektif cantik saja masih nggak pede,” tuturnya, menggelengkan kepala.

Melanie menyaksikan sendiri bagaimana standar kecantikan di media sosial menciptakan wajah yang serupa, dan juga luka: operasi berlebihan, botoks murah yang merusak wajah, hingga kasus ekstrem—remaja yang menawarkan keperawanannya demi gawai terbaru.

“Dulu sinetron nge-brainwash, sekarang medsos,” ujarnya, prihatin.

Lewat “Cantik Itu Aku”, Melanie ingin menyampaikan pesan paling sederhana namun paling sulit diterima banyak perempuan: aku cukup, aku berharga, aku cantik apa adanya. Lagu ini 100 persen didedikasikan untuk gerakan perempuan, lengkap dengan rencana tur edukasi ke sekolah-sekolah pasca Lebaran.

Dari Harapan Kecil Menjadi Gerakan Panjang

Di luar musik, kepedulian sosial Melanie salah satunya tersalurkan melalui Rumah Harapan Melanie. Oktober mendatang wadah kegiatan sosial ini genap 19 tahun berdiri dan telah disahkan sebagai yayasan sejak satu dekade lalu.

Melanie bilang awalnya sederhana, nyontek “Make a wish movement” yang digagas presenter Ellen Degeneres dan Operah Winfrey. Ia pun mewujudkan harapan-harapan kecil bagi mereka yang tak mampu, bahkan bagi pasien yang hidupnya “tinggal menghitung jam”.

Melanie menemukan mereka di bangsal-bangsal rumah sakit, mengikuti teman-temannya yang berkecimpung di dunia kemanusiaan.

Rupanya, panggilan hati itu tumbuh dari didikan orangtuanya. “Di dalam keluarga memang dari kecil sudah diajari untuk punya kepedulian. Tanpa perlu dilihat siapapun. Jadi aku dan Christie, Adrian, punya gerakan dengan cara kita masing-masing. Begitu juga Bapak Ibu. Kebetulan aku punya power, melalui musik, ya aku menjadikan ini besar sekalian,” ungkapnya.

Bukan hanya kepedulian, ayahnya, promotor legendaris Adri Subono, juga mendidik Melanie untuk hidup sederhana, sesuai kemampuan. Melanie ingat, pada masa kuliah dulu, dia dibelikan sebuah mobil tua oleh ayahnya. Sementara teman-temannya mengendarai mobil-mobil terkini.

“Bukan masalah mampu atau tidak, tapi pantas tidak? Kamu sudah ada pekerjaan belum untuk isi bensin, untuk service? Kalaupun ada, sudah cukup belum untuk menutup itu semua?,” kisah Melanie menirukan.

Maka kesederhanaan itu terbawa hingga kini. Melanie bahkan mengaku masih meminjam mobil adiknya atau orangtuanya. Dia memilih menabung untuk membeli ambulans Rumah Harapan ketimbang kendaraan pribadi.

“Pertimbangannya, waktuku kebanyakan habis dengan tour luar kota, mobil buat apa? Bapakku tinggal dengan ibuku, ada beberapa mobil dan sopir. Jadi kalau lagi males naik angkutan umum ya pinjam saja. Itupun sama emak bapakku dihitung, misal di atas jam 6 kamu hitung lemburnya sopir per jam ya,” kisah Melanie menirukan.

Tidak hanya perkara mobil, lihatlah pakaian dan alas kaki yang melekat di tubuhnya. Mungkin orang bilang, tak terlihat jejak Melanie pernah menekuni dunia modelling atau berasal dari keluarga sultan. “Aku keluar dari modelling karena nggak nyambung obrolan dan gaya hidupnya,” katanya santai.

Segala yang dia kenakan lebih mengikuti prinsip kenyamanan. “Sepatu ini juga bolong. Tapi ya menyesuaikan saja, aku tahu harus bagaimana. Kalau cuma nongkrong di warung kopi ya sepatu bolong nggak masalah. Tapi tentunya beda kalau waktunya bertemu Menteri atau lainnya,” ujar Melanie.

Prinsip ini terbukti menguntungkan. “Di saat temen-temen modeling mulai panik keriput dan sebagainya, aku alhamdulilah santai saja. Treatment ya kadang iya, seperlunya saja, supaya fresh. Alhamdulilah masih kenceng kerjaan luar kota dan sebagainya,” Syukurnya.

Perempuan Rock yang Terus Bergerak

Bukan hanya melalui musik, tengoklah pula Instagram Melanie. Perempuan kelahiran Jerman 49 tahun lalu ini vokal menyuarakan berbagai isu. Mulai dari trafficking, perbudakan modern, migran, kerusakan lingkungan, hingga berbagai ketidakadilan sosial. Ia pernah aktif di Migrant Care, lalu memilih berjalan dengan caranya sendiri. “Ini bentuk lain dari bersuara saja,” katanya tenang.

Satu sisi lain dari Melanie yang jarang dibicarakan adalah kemampuannya berkomunikasi dengan hewan—sebuah pengalaman yang awalnya bahkan ia sangkal sendiri, mengingat latar belakang logisnya sebagai perempuan yang lahir di lingkungan teknologi; negara Jerman dan berdarah Habibie.

Pengalaman spiritualnya bersama anjing rescue bernama Renzi menjadi titik balik. Sejak itu, Melanie memilih membuka diri pada empati lintas spesies—sebuah bentuk kepedulian yang baginya, tetap berakar pada satu hal: kehadiran sepenuh hati.

Melanie Subono bukan figur yang mudah dimasukkan ke satu kotak. Ia bisa tampil dengan sepatu bolong di warung kopi, lalu berdiri percaya diri di ruang-ruang formal. Ia bisa berteriak lewat musik rock, lalu berbisik lewat lagu lembut. Namun satu hal konsisten: ia tidak pernah diam.







Gabung Milis

Daftarkan diri Anda dan dapatkan update terbaru dari WomanBlitz